Pernah Dengar Nama Santo Pelindung Barista dan Kedai Kopi? Ini Nama dan Kisah Hidupnya

Katolikpedia.id – Pernahkah kalian membayangkan bahwa ada orang kudus atau santo-santa dalam Gereja Katolik yang dipercaya sebagai santo pelindung barista dan kedai kopi? Meski terdengar agak asing, faktanya ada.

Beberapa sumber yang ditelusuri Katolikpedia.id menyebutkan bahwa ketika kita membicarakan kopi, kedai kopi, atau seorang barista, kita tak bisa menyebut nama Santo Drogo.

Lantas, apa yang membuat Santo Drogo disebut sebagai santo pelindung barista dan kedai kopi? Untuk menyusuri hal ini, kita akan mengawalinya dari kisah hidup Santo Drogo.

Biografi Santo Drogo

Dalam edisi paling awal Martyrologium Romanum yang disetujui oleh Paus Gregorius XIII pada 1584, tertulis nama “Santo Drogo, bapa pengakuan”; diperingati setiap tanggal 16 April.

Drogo atau yang dikenal dengan beberapa panggilan yaitu Dreux, Drugo, dan Druron, lahir di Epinoy, sekarang bagian dari Carvin di ujung utara Prancis dekat Flanders, pada 14 Maret 1105.

Ayahnya meninggal saat ia masih di kandungan ibunya. Saat proses persalinan, ibunya menderita penyakit komplikasi sehingga ia harus menjalani operasi caesar. Meski bayinya bisa diselamatkan, nyawa sang ibu tak bisa tertolong.

BACA: Mujizat! Suster Ini Sembuh Setelah Berziarah ke Lourdes

Bayi yatim piatu itu kemudian diadopsi oleh kenalan orangtuanya dan dia dibaptis dengan nama Drogo atau Druron dalam bahasa Prancis.

Saat ia berusia sekitar sepuluh tahun, ia mendengar kisah tentang orangtuanya, terutama tentang ibunya. Hal itu membuatnya sangat sedih dan merasa bersalah. Ia berpikir bahwa dialah yang menyebabkan kematian ibunya. Ia kerap terlihat menangis sendirian karena hal ini.

Perasaan bersalah itu terus-menerus menghantui dirinya. Ia berulangkali berdoa mohon pengampunan dari Tuhan atas peristiwa kematian ibunya. Bahkan, tak jarang ia berpuasa dan berpantang dengan sangat keras, dan terlibat dalam beberapa kegiatan amal sebagai silih.

Sebetulnya, meski ia yatim piatu, Drogo bukanlah orang miskin. Orangtuanya, diyakini merupakan keturunan bangsawan sehingga ia mempunyai warisan yang cukup banyak. Tetapi, semua itu ia bagikan kepada orang-orang miskin ketika ia mulai beranjak dewasa.

Dalam tulisannya tentang kisah hidup Santo Drogo yang dipublikasikan di crisismagazine.com, Christian E. O’Connell menjelaskan bahwa keputusan Drogo membagikan harta miliknya tak lepas dari nasihat Yesus kepada seorang pemuda yang kaya raya dalam Mat 19:21:

“Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”

Santo Drogo, Santo Pelindung Barista Kopi
Foto: Pinterest.com

Usai menjual dan membagi-bagikan harta miliknya, Drogo menjadi seorang pengembara hingga ia tiba di sebuah desa kecil bernama Sebourg, sekitar 35 mil dari Epinoy. Ketika itu, Sebourg merupakan bagian dari County Hainaut, wilayah independen yang berbatasan dengan Perancis. Tapi sekarang ia berada di antara perbatasan Perancis dan Belgia.

Di desa kecil itu, Drogo bekerja merawat domba milik seorang petani perempuan yang saleh dan makmur. Sebagian upah yang ia terima, ia bagi-bagikan juga dengan orang-orang miskin.

Kerendahan hati, kelemahlembutan dan kemurahan hatinya membuat para penduduk desa kagum. Karena kesalehan hidupnya, konon masyarakat bisa melihatnya berada di dua tempat sekaligus atau bilokasi.

Misalnya, ketika Drogo sedang berada di ladang, merawat kawanan domba atau tenggelam dalam doa, ia kadang-kadang secara bersamaan terlihat menghadiri Misa.

Setelah tinggal enam tahun di Sebourg, Drogo merasa dipanggil oleh Tuhan untuk melakukan ziarah. Ia mulai melakukan ziarah dengan berjalan kaki ke Roma di mana dia mengunjungi makam Santo Petrus dan Paulus.

Dalam perjalanan ia juga berhenti di banyak tempat suci terkenal lainnya di Prancis dan Italia untuk berdoa. Selama perjalanannya, Drogo sesekali menggunakan keterampilannya sebagai seorang gembala untuk menghidupi dirinya sendiri dan mengajar para gembala lain yang ia temui.

Tidak main-main, Drogo melakukan ziarah ke Roma ini selama sembilan kali dalam jangka waktu sembilan tahun. Ia kembali ke Drogo hanya beberapa waktu, lalu ia kembali melakukan ziarah.

Selama melakukan ziarah, yang diyakini sebagai salah satu cara ia menebus rasa bersalah atas kematian ibunya, Drogo membiarkan dirinya lapar, haus, terkena cuaca dingin yang ekstrim, dan berbagai jenis penderitaan fisik.

Dalam ziarahnya yang terakhir, Drogo terkena penyakit hernia yang membuatnya sangat lemah. Ia kembali ke Sebourg dan tinggal seorang diri. Umat Paroki Sebourg membangun sebuah rumah kecil dan sangat sederhana, bersebelahan dengan gereja paroki untuknya.

Dari sana, Drogo tetap bisa mengikuti Misa dan melakukan adorasi melalui celah kecil di dinding gereja. Menjelang usia 30 tahun, Drogo mengurung diri di dalam biliknya. Terkadang, orang-orang desa datang meminta nasihat atau doa padanya.

Selama itu, Drogo hanya makan roti dan air gandum. Kalau ada orang-orang desa yang memberikan makanan kepadanya, ia akan membagikannya lagi kepada orang miskin.

Seiring waktu, penyakit Drogo yang menyakitkan semakin memburuk, termasuk luka-luka yang mulai membusuk di sebagian tubuhnya.

Mukjizat saat ia meninggal

Biarawan Fransiskan, belas Jacques de Guyse menulis, suatu ketika gedung gereja yang terbuat dari kayu dan ilalang terbakar. Para penduduk desa berlarian ke situ dan meminta Drogo untuk keluar karena api hampir melahap biliknya.

Namun, dari tengah kobaran api, Drogo berseru, “Aku telah bersumpah kepada Allah, dan aku akan menggenapinya! Jika itu menyenangkan Kebaikan Ilahi bahwa saya harus melarikan diri dari nyala api, kehendak-Nya akan terlaksana!” Sambil berlutut dan bardoa, Drogo tetap berada di dalam kobaran api.

Ketika api mulai padam, penduduk desa menemukan Drogo masih ada di sana dengan tetap berdoa, sementara ia tak terbakar sedikitpun.

Lalu penduduk desa membangun kembali gereja dan tempat tinggal baru untuk Drogo di tempat yang sama, dan Drogo masih tinggal di situ sebagai seorang pendoa.

Ketika ia meninggal pada 16 Arpil 1186, keluarganya di Epinoy meminta agar jenazah di makamkan di sana. Sesuai kebiasaan pada masa itu, jenazah yang ditempatkan dalam sebuah peti diletakan di atas gerobak untuk ditarik dengan sapi.

Namun tampaknya Tuhan bermaksud agar Drogo tetap tinggal di Sebourg. Saat jenazahnya mau dibawa peti jenazah itu semakin berat. Hingga ke perbatasan desa, gerobak jenazah sudah tidak bisa ditarik sama sekali, seperti ada kekuatan supranatural yang menahannya.

Akhirnya, jenazah Drogo tetap dimakamkan di Sebourg. Hingga kini, makamnya menjadi salah satu tempat ziarah yang sangat terkenal.

Santo pelindung barista dan pencita kopi

Klaim Santo Drogo sebagai santo pelindung barista dan pencinta kopi sebetulnya datang dari penduduk Sebourg beberapa waktu setelah kematiannya. Diperkirakan, para penjaga kedai kopi pada masa itu ingin mencari seseorang yang dapat dijadikan patron atau teladan hidup.

Maka dipilihlah Santo Drogo sebagai patron mereka. Ini tidak lepas dari sifat kopi itu sendiri: meski terbakar oleh api, biji kopi tidak berubah dan malah semakin harum. Hal ini mirip dengan kisah hidup Santo Drogo, terutama kisah tentang terbakarnya gereja Sebourg dan biliknya.

Dalam tradisi-tradisi selanjutnya, asosiasi nama Santo Drogo dengan kopi semakin terkenal dan tampak tak terpisahkan; rasanya belum lengkap kalau membicarakan kopi tanpa menyebut nama Santo Drogo.

Selain itu, Santo Drogo juga dipercaya sebagai santo pelindung para gembala, kawanan domba, ibu-ibu hamil, dan beberapa penyakit lainnya seperti hernia dan batu ginjal.

Sumber: crisismagazine.com dan catholicsaintmedals.com

NB: Katolikpedia.id sedang menjalankan Program #TravelRohani yakni mendokumentasikan arsitektur gereja, tempat ziarah dan kegiatan-kegiatan lintas iman di channel youtube “Katolik Pedia”. Jika Anda tertarik untuk mendukung program ini, silakan membantu kami dengan SUBSCRIBE, LIKE, SHARE dan COMMENT. Ini salah satu videonya:

1,990 total views, 5 views today

Bagikan Artikel Ini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *