Katolikpedia.id

Di Sini Kamu Bisa Temukan Cerita Masa Kecil Kardinal Ignatius Suharyo Hingga Dia Jadi Uskup

Kardinal Ignatius Suharyo Uskup Agung Jakarta

Katolikpedia.id – Gereja Katolik Indonesia bersyukur karena Uskup Agung Jakarta dipilih oleh Paus Fransiskus sebagai kardinal; Kardinal Ignatius Suharyo. Dengan demikian, saat ini Indonesia memiliki dua kardinal yang masuh ada di antara kita.

Selain Kardinal Suharyo, Indonesia juga memiliki Kardinal Julius Riyadi Darmaatmadja SJ, yang saat ini menjalani masa purna tugas di Girisonta, Semarang, Jawa Tengah. Tahun ini, Kardinal Julius Darmaatmadja sudah berusia 85 tahun.

Sosok Kardinal Suharyo tentu tidak asing bagi sebagian umat Katolik Indonesia, terutama bagi umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Pasalnya, sejak 2010 tampuk kepemimpinan KAJ berada di tangannya.

MOHON DUKUNGAN:

BACA: Ziarah Batin 2020 Sudah Terbit! Ini 5 Alasan Orang Katolik Harus Membacanya

Namun, bagi sebagian umat Katolik yang belum mengenalnya tentu ingin tahu. Dan, bisa jadi, yang bikin penasaran adalah bagaimana kisah masa kecil Kardinal Suharyo? Sebab, kita yakin bahwa perjalanannya hingga dipilih sebagai kardinal saat ini tak mungkin kita lepas-pisahkan dari cerita masa kecilnya; termasuk keluarganya.

Bagi kalian yang ingin tahu kisah masa kecil Kardinal Suharyo, saya menganjurkan untuk membaca buku “Terima Kasih, Baik, Lanjutkan”. Buku biografi Kardinal Suharyo tersebut ditulis oleh St. Sularto dan Trias Kuncahyono.

Profil Kardinal Ignatius Suharyo

Kisah hidup Kardinal Suharyo dalam buku yang terdiri dari delapan bab tersebut, menurut saya, dapat dibagi dalam tiga babak. Pertama, keluarga dan masa kecil; kedua, menjadi imam, Uskup Agung Semarang, dan Uskup Militer; ketiga, menjadi Uskup Agung Jakarta.

Riwayat Hidup Kardinal Suharyo
Desain by Katolikpedia.id

Pada tiap babak, buku ini menjelaskan dengan sangat rinci nilai-nilai hidup yang dipegang teguh Kardinal Suharyo.

Contoh, Suharyo kecil digambarkan sebagai sosok yang peduli dan ringan tangan untuk membantu. Meski datang dari keluarga berkecukupan, toh itu tak membuatnya untuk menyombongkan diri.

Hal ini menjadi sangat kental tergambarkan ketika ia remaja dan menjalani formasi sebagai calon imam Keuskupan Agung Semarang. Dikatakan, meski memiliki motor, simbol seseorang datang dari keluarga berkecukupan, Frater Suarhyo tak segan membantu rekannya yang membutuhkan, ketimbang bersenang-senang untuk diri sendiri.

“Dengan motor Honda yang umumnya tak dimiliki frater pada zaman itu, Frater Suharyo menolong teman-temannya yang sedang mengalami persoalan” (hal.8).

Kesediaan untuk menolong mereka yang membutuhkan itu, tentu bukan hal yang baru dia pelajari ketika dewasa. Dia justru mencontoh kedua orangtuanya. Meski hidup di kampung yang kental dengan pertanian, ia percaya bahwa ayah dan ibunya sudah mendidik dia dan saudara-saudarinya dengan sangat baik.

“… Bapak dan ibunya adalah orang-orang saleh dengan segala kekurangan dan keterbatasannya: senang berdoa, sungguh percaya kepada Allah dan sangat mengandalkan Tuhan” (hal.12).

Kebajikan-kebajikan inilah yang ia bawa ketika menjadi Uskup Agung Semarang, seperti dilukiskan dalam babak kedua buku ini. Misalnya, halaman 118 buku ini memberi gambaran bahwa status sebagai Uskup Agung Semarang pada waktu itu membuat Uskup Suharyo perlu menunjukan gaya kepemimpinan khas dari dirinya.

Salah satunya ialah “duduk bersama” untuk membahas persoalan yang ada. Ia memegang prinsip, pelayanan kepada umat harus terus berlanjut; jika ada kesalahan maka harus diperbaiki, yang sudah benar dilanjutkan.

Gaya kepemimpinan ini pula yang ia bawa ketika pindah tugas ke Jakarta pada 2010; bagian dari babak ketiga. Ini terlihat dari Arah Dasar (Ardas) Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) yang dirancang tiap lima tahunan. Sejak dipimpin Kardinal Suharyo, sudah dua kali KAJ membarui Ardas yakni 2011-2015 dan 2016-2020.

Dalam kedua Ardas tersebut, perhatian karya-karya sosial cukup kental. Hal itu dapat kita temukan dalam “Alinea I Ardas 2011-2015: memperdalam iman akan Yesus Kristus, membangun persaudaraan sejati dan terlibat dalam pelayanan kasih di tengah masyarakat” (hal.166).

Selanjutnya, bagian akhir buku ini menyajikan beberapa pendapat dari orang-orang yang pernah berada di sekitar Kardinal Ignatius Suharyo, atau bahkan membantunya menggembalakan KAJ.

Bagaimana pendapat mereka tentang sosok Kardinal Ingatius Suharyo? Anda bisa langsung membacanya di buku ini:

Judul: Terima Kasih, Baik, Lanjutkan!
Penulis: St. Sularto dan Trias Kuncahyono
Penerbit: OBOR
Tebal: 310 halaman

NB: Katolikpedia.id sedang menjalankan Program #TravelRohani yakni mendokumentasikan arsitektur gereja, tempat ziarah dan kegiatan-kegiatan lintas iman di channel youtube “Katolik Pedia”. Jika Anda tertarik untuk mendukung program ini, silakan membantu kami dengan SUBSCRIBE, LIKE, SHARE dan COMMENT. Ini salah satu videonya:

https://youtu.be/iDch0XtxMqg
Tulis Komentar Anda:

Artikel Terkait:

Ziarah Batin 2020 Sudah Terbit! Ini 5 Alasan Orang Katolik Harus Membacanya

Admin

St. Yohanes Bosco : Jangan Menjauh dari Komuni Kudus

Admin

Dua Suster Ini Tempuh Cara Unik untuk Ikut dalam Demo Mengutuk Rasisme

Admin

2 comments

Paus Bikin Komisi Baru untuk Mempelajari Kemungkinan Ada Diakon Perempuan | Katolikpedia.id April 9, 2020 at 11:22 pm

[…] BACA JUGA: Di Sini Kamu Bisa Temukan Cerita Masa Kecil Kardinal Ignatius Suharyo Hingga Dia Jadi Uskup […]

Reply
Paus Bikin Komisi Baru untuk Pelajari Kemungkinan Ada Diakon Perempuan | Katolikpedia.id April 11, 2020 at 7:06 am

[…] BACA JUGA: Di Sini Kamu Bisa Temukan Cerita Masa Kecil Kardinal Ignatius Suharyo Hingga Dia Jadi Uskup […]

Reply

Leave a Comment