Puji Tuhan! Mukjizat yang Mengantar Kardinal Henry Newman Jadi Santo, Terjadi Di Kamar Mandi

Katolikpedia.id – Mukjizat yang mengantar Kardinal Henry Newman diangkat menjadi Santo, ternyata mukjizatnya terjadi di sebuah kamar mandi. Mukjizat itu dialami oleh seorang ibu bernama Melissa Villalobos.

Setelah diselidiki dengan seksama, akhirnya Gereja Katolik mengakui mukjizat yang dialami oleh Melissa, dan Kardinal John Henry Newman dinyatakan sebagai orang kudus.

Misa kanosasi Kardinal Henry Newman berlangsung dua minggu lalu di Basilika St Petrus Vatikan, dipimpin oleh Paus Fransikus.

Mukjizat yang melapangkan jalan Beato Henry Newman diangkat menjadi santo itu ditulis secara jelas dalam website resmi kanonisasinya.

Secara lengkap, inilah kronologi terjadinya mukjizat yang dialami Melissa, setelah berdoa melalui perantaraan Beato Henry Newman (1801–1890).

Mukjizat Kardinal Henry Newman

Melissa Villalobos tinggal di dekat Chicago, sebagai seorang mahasiswa di Universitas Washington. Suatu ketika di tahun 2000, ia menonton acara EWTN TV yang disebut ‘Newman At 2000’.

Acara itu rupanya menarik sehingga pelan-pelan ia mulai mencari tahu tentang siap Kardinal Henry Newman.

Lalu pada 2010, dia menonton upacara Beatifikasi Kardinal Newman di EWTN, dan ingat dia sangat tersentuh akan peristiwa tersebut.

BACA: Sedang Mencari Pekerjaan? Berdoalah Lewat Santo Ini

Setelah itu, ia mulai membiasakan diri berdoa melalui perantaraan Beato John Henry Newman. Tak lupa Ia membaca karya-karya teolog besar dalam Gereja itu, melalui internet dan berbagai sumber. Tak jarang, Melissa juga berdoa mohon inspirasi dari tokoh idolanya itu.

Beberapa waktu kemudian, Melissa menjalin hubungan dengan David Villalobos, lalu menikah. Pernikahan mereka berbuah tujuh anak.

Peristiwa mukjizat terjadi saat Melissa mengandung anaknya yang kelima, Gamma.

Pada akhir April 2013, Melissa mulai mengandung anak kelimanya. Namun entah mengapa, pada minggu keenam kehamilannya, ia mengalami pendarahan.

Pada 8 Mei, Melissa pergi ke dokter untuk melakukan USG. Hasilnya, ia terdiagnosa mengalami hematoma subchorionic; terjadi sobekan pada plasenta. Tetapi embrio yang sedang ada dalam kandungannya itu memiliki detak jantung yang normal.

Karena itu, Melissa disarankan oleh dokter untuk beristirahat di tempat tidur dan tidak boleh melakukan aktivitas apa pun. Namun, bila sewaktu-waktu keadaannya memburuk, ia harus segera kembali ke rumah sakit.

Pada kenyataannya pendarahan terus berlanjut dan bahkan semakin tak terkendali, sehingga pada 10 Mei Melissa harus ditangani dengan darurat di rumah sakit setempat. Di situ dia diingatkan lagi untuk tidak melakukan aktivitas sekecil apa pun, kecuali benar-benar diperlukan.

Dokter mengatakan kepadanya bahwa dia perlu istirahat ketat selama berbulan-bulan agar plasenta yang sobek bisa pulih.

Jika bayi itu selamat, dia kemungkinan kecil lahir prematur. Tapi resiko keguguran juga sangat mungkin terjadi.

Melissa kembali ke rumah, meski pendarahan tidak pernah benar-benar berhenti.

Saat bangun pagi pada 15 Mei, Melissa kembali menemukan dirinya mengalami pendarahan hebat. Di saat bersamaan suaminya sudah dalam penerbangan dari Chicago ke Atlanta untuk urusan pekerjaan.

Melissa di rumah hanya ditemani keempat anaknya yang berusia enam, lima, tiga dan satu tahun.

Anak-anaknya itu butuh sarapan. Karena tak punya pilihan, Melissa sedikit memaksa diri bangun dan membuatkan sarapan untuk anak-anaknya. Saat itulah ia mengalami pendarahan yang sangat hebat.

Tak ingin membuat anak-anaknya takut, ia segera berpesan kepada anak-anaknya untuk melanjutkan sarapan, setelah itu masuk ke kamar masing-masing dan tutup pintu. Melissa menyingkir ke kamar mandi yang ada di lantai bawah.

Dia berhasil mencapai kamar mandi, berusaha menutup pintu, lalu jatuh terkapar tak berdaya. Saat itu jam 10 pagi. Meski ia berusaha untuk tidak bergerak dengan berbaring di lantai kamar mandi, darah segar terus mengalir.

Berteriak minta tolong pun tak mungkin karena itu hanya akan membuat pendarahan terus terjadi. Dia juga tak membawa telepon.

Melissa juga tak mungkin meminta bantuan ke anak-anaknya yang masih kecil. Ia tak mau mereka melihatnya dalam keadaan bersimbah darah lalu merasa ketakutan.

Dalam keadaan darurat seperti itu, terbersit dalam benaknya untuk berdoa melalui Beato John Henry Newman.

“Tolong Kardinal Newman, hentikan pendarahanku!” serunya dalam hati.

Tak lama berselang, pendarahannya berhenti. Melissa sangat berterima kasih kepada Beato Henry Newman yang sudah menolongnya. Ia percaya bahwa dia telah disembuhkan Tuhan melalui tokoh panutannya itu.

Pada 15 Mei, ia pergi ke dokter untuk memeriksakan diri dan kandungannya. Di sana ia menerima informasi yang sangat mencengangkan. Ia dinyatakan telah sembuh total dan tidak ada lagi sobekan pada plasentanya. Bayinya pun sehat.

Kardinal John Henry Newman Jadi Santo
Foto: ncronline.org

Setelah itu, pendarahan tidak pernah terjadi lagi. Bahkan ia masih memiliki dua anak lagi setelah peristiwa yang mengancam nyawanya itu.

Pengakuan Vatikan

Setelah penyelidikan awal yang dilakukan oleh Keuskupan Agung Chicago, mukjizat disampaikan kepada Tahta Suci pada 2018.

Para teolog yang mempelajari peristiwa ini dengan suara bulat memutuskan bahwa penyembuhan Melissa Villalobos adalah mukjizat yang dilakukan oleh Tuhan melalui perantaraan Beato John Henry Newman.

Mukjizat itu akhirnya disetujui oleh Paus Francis pada 13 Februari 2019 yang membuka jalan bagi kanonisasi Beato John Henry Newman. Misa kanonasisinya sendiri berlangsung pada 13 Oktober 2019 lalu.

Sumber: Newmancanonisation.com

2,596 total views, 3 views today

Bagikan Artikel Ini:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *