Katolikpedia.id

Kita Butuh Solidaritas Global untuk Bangkit dari Pandemi

Solidaritas Global Tanpa Sekat

Saya merasa tertarik untuk mengawali ulasan sederhana ini dengan menyuguhkan beberapa pertanyaan reflektif.

Apakah pandemi Covid-19 mampu mengubah hati setiap orang individualis jadi pribadi yang lebih solider? Apakah pandemi Covid-19 mampu mendesak kita semua untuk berbela rasa terhadap sesama, terlebih khusus orang-orang yang membutuhkan pertolongan kita?

Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi sangat penting. Sebab sebagaimana ditegaskan oleh Paus Fransiskus dalam katekese pada Audensi Umum, (Rabu, 02 September 2020) bahwa untuk keluar dari krisis ini dengan lebih baik, kita perlu melakukannya bersama-sama, membangkitkan solidaritas yang otentik dengan keutamaan iman untuk menyembuhkan penyakit sosial di dunia pasca-pandemi.

Perjuangan bersama

Pada prinsipnya, rasa solidaritas ini pertama-tama harus dipahami dan dihayati sebagai sebuah ikhtiar bersama.

“Kita menyadari bahwa kita sedang berada di dalam perahu yang sama”, demikian kata Paus Fransiskus.

Kita semua rapuh dan kehilangan arah. Tetapi pada saat yang sama, penting dan perlu kita semua dipanggil untuk bersatu, berjalan bersama dalam menghadapi situasi pelik ini.

Ajakan dari Paus Fransiskus untuk membangun solidaritas global tentu saja harus dilihat sebagai sebuah jalan yang pantas yang harus kita tempuh. Kita perlu menyambutnya dengan hati terbuka.

BACA: Keren! Mempelai Ini Ubah Resepsi Nikah Menjadi Aksi Sosial

Lebih dari itu, dalam tataran praktis solidaritas global ini harus menjiwai seluruh sikap dan perilaku hidup kita.

Dalam perjuangan kita dalam menghadapi pandemi Covid-19, kita diajak memberi kekuatan kepada sesama suadara kita yang sedang menderita, kepada para medis yang bekerja siang dan malam merawat para pasien Covid-19 dan kepada semua pihak yang mencurahkan perhatiannya dalam memutuskan penyebaran mata rantai Covid-19 ini.

Bersamaan dengan itu, di masa ini kita diajak untuk memikirkan kembali relasi kita dengan Tuhan, sesama dan alam sekitar.

Fakta menunjukkan bahwa dengan kecemerlangan akal budinya, manusia mampu memproduksi alat-alat teknologi yang super canggih seperti dalam bidang elekteonik, bioteknologi, komunikasi, transportasi dan berbagai produk teknologi lainnya.

Pada satu sisi, kemajuan teknologi membantu manusia dalam mengatasi berbagai kesulitan. Akan tetapi, di sisi lain, pengagungan berlebihan terhadap perkembangan teknologi dan sains ini, membuat manusia menganggap dirinya sebagai “yang mahakuasa”.

Imbasnya manusia menjadi sombong atas dirinya sendiri dan tidak lagi mengandalkan Tuhan dalam hidupnya. Begitu pula dengan relasi dengan sesama dan alam sekitar.

Manusia seringkali menjadikan sesama dan alam sekitarnya sebagai objek semata yang seringkali diperlakukan secara sewenang-wenang. Sesama diperlakukan secara tidak adil, jeritan orang-orang miskin dan yang menderita seringkali diabaikan. Alam dieksploitasi secara besar-besaran demi keuntungan segelintir orang.

Sebagaimana kita ketahui bahwa dari waktu ke waktu jumlah kasus Covid-19 terus bertambah, demikian pun halnya dengan jumlah korban yang meninggal dunia akibat serangan virus yang ganas ini.

Tentu saja, kita sama sekali tidak mengingini bahwa pandemi Covid-19 ini terus berkelanjutan. Pada saat yang sama, kita pun terus berjuang dengan berbagai cara agar pandemi ini segera berlalu. Kita diajak sekali lagi untuk membangun kembali relasi yang harmonis dengan Allah, sesama manusia dan alam sekitar.

BACA JUGA: Taman Rohani Jati Segara Wening, Tempat Ziarah Terbaru di Tegal Bagi Umat Katolik

Sebagaimana ditegaskan oleh Paus Fransiskus bahwa di tengah krisis Covid-19 ini, solidaritas yang dipimpin iman memungkinkan kita untuk menerjemahkan kasih Tuhan ke dalam budaya global kita, bukan dengan membangun menara atau tembok, yang memisahkan kita satu dengan yang lain.

Sebagai orang Kristiani, kita diajak membangun komunitas dan mendukung setiap proses pertumbuhan yang benar-benar manusiawi dan solid.

Demi Kebaikan Bersama

Solidaritas global yang ditawarkan oleh Paus Fransiskus bertujuan untuk mencapai kebaikan kita semua dalam suatu tatanan hidup bermasyarakat.

Benar bahwa kita boleh terpisah secara fisik dengan para penderita virus corona, tetapi kita bersatu dengan mereka dalam doa dan berbagai bentuk dukungan yang senantiasa menguatkan mereka.

Solidaritas global ini juga mendesak kita untuk berada bersama orang-orang yang sedang dirundungi duka karena kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Solidaritas global ini mendesak kita untuk menolong sesama yang sedang berada dalam situasi krisis karena kehilangan pekerjaan.

Akhirnya, di tengah badai besar ini, solidaritas global tetap menjadi keutamaan hidup yang terus dijunjung tinggi yang harus kita pegang. Sebab, mengutip sekali lagi apa yang ditegaskan oleh Paus Fransiskus: “Solidaritas hari ini adalah jalan menuju dunia pasca pandemi, menuju penyembuhan penyakit interpersonal dan sosial kita”.

Tulis Komentar Anda:

Artikel Terkait:

Paus Bikin Komisi Baru untuk Pelajari Kemungkinan Ada Diakon Perempuan

Steve Elu

Paus Fransiskus : Hanya Tuhan yang Mencintai Kita dengan Sempurna

Edeltrudizh

Maukah Kita Terapkan Belas Kasih Injil dalam Hidup Sehari-hari? Jawabanmu…

Steve Elu

Leave a Comment