Katolikpedia.id

Tanggapan: Benarkah Ada “Injil Vatican School” di Vatikan?

Tanggapan atas Injil Vatican School

Katolikpedia.id – Dari Lulusan “S3 Universitas Vatikan” Menuju “Injil Vatican School. Mungkin itulah kutipan yang tepat untuk tulisan sederhana ini. Beberapa bulan lalu kita mendengar berita heboh soal “lulusan S3 Universitas Vatikan”. Lalu hari-hari ini kembali kita disapa dengan jualan berita murahan yang sama produknya: “lulusan Injil Vatikan School”.

Iklan murahan yang terakhir ini mendorong saya untuk sedikit berbagi kisah tentang beberapa Universitas Kepausan yang ada di Vatikan. Berita “lulusan S3 Universitas Vatikan” yang dulu dan “lulusan Injil Vatican School” yang sekarang tidak membuat saya terusik apalagi terganggu. Hanya saja memang perlu untuk diluruskan.

Teman-teman religius (Romo/Pater, Suster, Frater, Bruder) yang pernah dan sedang kuliah di Roma pasti tidak asing dengan beberapa nama Universitas Kepausan ini: Pontificia Università Gregoriana, Pontificia Università Urbaniana, Pontificia Università Salesiana, Pontificia Università Antonianum atau Pontificia Università Lateranensis. Dan tentu saja masih ada Universitas-universitas lain tempat “kaum religius diaspora” dari Indonesia menimba ilmu di Italia. Sebut saja ada Universitas Sapienza atau juga Universitas LUMSA dan macam-macam universitas lainnya.

Sebelum bernarasi lebih jauh, saya hanya ingin sedikit “sharing”. Komunitas tempat tinggal saya hanya berjarak 1,5 km dari Vatikan. Jarak tempuh dengan jalan hanya sekitar 20 menit. Dan Vatikan menjadi tempat destinasi favorit saya ketika berolah raga sore, joging atau hanya sekedar jalan-jalan santai.

BACA: Inilah Fakta tentang Universitas Kepausan dan Jawaban untuk “Lulusan S3 Vatikan”

Hampir setiap sore saya selalu mampir dan menyusuri lorong-lorong yang ada di Vatikan. Dan meski baru tiga tahun lebih di Roma, bisa dibilang saya cukup tahu apa-apa saja yang ada di sekitar Vatikan: entah mulai dari Kantor-kantor Kuria Roma, Supermarket Vatikan, Taman Vatikan, Apotek yang ada di Vatikan, kios-kios kecil yang menjual souvenir paling murah sampai restoran-restoran idaman para religius Indonesia dan peziarah yang datang dari Indonesia.

Pertanyaan yang muncul di kepala kita: bagaimana tentang Universitas Vatikan atau Injil Vatican School yang disebut-sebutkan itu?

Meski baru di awal tulisan ini, saya mau bilang bahwa yang namanya “Universitas Vatikan” itu tidak ada. Yang namanya“Injil Vatican School”itu juga tidak ada. Kalau saja ada pasti hanya ada dalam pikiran orang yang kepalanya kurang oksigen. Atau hanya muncul dari halusinasi berpikir orang-orang yang mimpi dan niatnya tidak kesampaian.

Kita kembali. Saya sebutkan ulang di sini beberapa Universitas Kepausan: Pontificia Università Gregoriana, Pontificia Università Urbaniana, Pontificia Università Salesiana, Pontificia Università Antonianumatau Pontificia Università Lateranensis. Dan tentu saj amasih ada banyak universitas Katolik lain yang menjadi tempat “bersekolah ”kaum religius dari Indonesia.

Setiap Universitas Kepausan tentu memiliki kekhasan dan keunikannya masing-masing. Misalkan saja, banyak dari tokoh Gereja Katolik Indonesia adalah jebolan dari Universitas Kepausan Gregoriana. Sebut saja ada Nicolaus Drijarkara, Kardinal Yustinus Darmoyuwono, Mgr. R. Rubyatmoko dan beberapa Uskup di Indonesia sekarang adalah juga alumni universitas ternama ini.

Atau di Universitas Kepausan Lateran, meskipun tidak sebanyak yang ada pada Universitas Gregoriana, tetap saja ada kaum religius dari Indonesia yang mendalami ilmu di sana, entah pada jenjang Lisensiat (S2) maupun doktoral (S3).

Merilis rekam jejak tokoh-tokoh yang sempat saya sebutkan di atas atau yang mungkin tidak sempat saya sebutkan sebagai alumni dari beberapa Universitas Kepausan di Vatikan boleh dibilang mereka adalah tokoh-tokoh panutan bagi Gereja Katolik Indonesia.

Semua kita pasti ingat pepatah ilmu padi yang kian berisi kian merunduk. Ilmu yang mereka dapat tidak membuat mereka “sombong” tapi justru menjadi sarana untuk membantu sesama/umatnya sendiri dengan tanpa harus menjelekkan “tetangganya”. Ada kerendahan hati di situ.

Lalu muncul beberapa hari terakhir ini, kisah dari seorang “aneh” yang katanya lulusan “Injil Vatican School”. Saya secara pribadi tidak terkejut karena berita semacam ini bukan sesuatu yang aneh.

BACA JUGA: Yuk, Kepoin 7 Fakta Penting & Unik tentang Keluarga Paus Emeritus Benediktus

Saya bilang seperti ini karena memang jualan ini datang dari orang-orang yang aneh. Mau numpang tenar, tapi dengan menjual berita bohong. Atau bisa saja ia pernah benar datang ke Vatikan tapi lebih banyak mengunjungi apotek Vatikan buat beli dan minum obat untuk pintar: pintar berbohong.

Saya ingin meyakinkan kita untuk tidak merasa aneh dan terkejut berlebihan dengan berita murahan ini. Sebab sudah sejak lama dalam konteks Indonesia, bagi beberapa pihak agama sudah menjadi komoditas, entah itu komoditas bisnis-komersial atau pun juga komoditas politik yang bisa saja lahir dari sentimen-sentimen tertentu.

Karena itu, bentuk promosi diri atau komersialisasi diri dengan sebutan “lulusan S3 Universitas Vatikan” atau “Injil Vatican School” menjadi jualan isu yang pas konteks tapi sudah usang dan tidak akan laku di pasaran. Biarpun didaur ulang dengan dandanan yang cantik-menor, tetap saja tidak akan menimbulkan efek apapun.

Memberi respon perlu, tapi tidak perlu berlebihan. Respon yang waras dan dewasa. Respon yang diwakili oleh daya nalar jauh lebih penting dalam menghadapi sentimen-sentimen itu. Saya kira respon yang kritis adalah sikap yang tepat untuk bantu mengisi “kekosongan isi kepala” sang “lulusan S3 Universitas Vatikan” atau lulusan “Injil Vatican School” itu.

Kemarin lulusan “S3 Universitas Vatikan” hari ini “Injil Vatican School” dan besok kita tidak tahu lagi jualan ide dungu apalagi yang muncul.

Salam Waras.

Tulis Komentar Anda:

Artikel Terkait:

Doa Inilah yang Setiap Hari Didoakan Paus Yohanes Paulus II Sejak Usia Remaja

Tiwie Pert

Sembilan Suster DCPB Kaul Kekal di Kupang, Ini Kata Mgr Petrus Turang

Steve Elu

Tinggalkan Profesi Guru dan Masuk Biara, Suster ini Setia Melayani Para Tahanan yang Dihukum Mati

Edeltrudizh

Leave a Comment