Katolikpedia.id – Sudah sejak awal pendirian Kongregasi, para misionaris Claretian (CMF) berusaha membantu Gereja Universal dalam bidang Teologi Hidup Bakti dan Hukum Gereja.
Dalam bidang Teologi Hidup Bakti, seturut semangat dan karisma Santo Antonius Maria Claret, para misionaris Claretian memberikan pelayanan dan berkomitmen mendukung serta mempromosikan hidup bakti dalam segala bentuknya.
Dan pada tahun ini, dua Institut Teologi Hidup Bakti di Roma (Italia) dan di Madrid (Spanyol) merayakan ulang tahun yang ke-50 pendiriannya.
Dalam merayakan pesta emas pendirian ini, Civitas Academica Institut Teologi Hidup Bakti di Roma mengadakan audiensi denga Bapa Suci, Paus Fransiskus. Audiensi ini berlangsung di Aula Clementina-Vatikan, pada Senin, 7 November 2022 yang lalu.
Audiensi diawali dengan Sambutan dari Superior Jendral Kongregasi Para Misionaris Claretian (CMF), P. Mattew Vattamatam. Kemudian semua Civitas Academica mendengarkan pesan dari Bapa Suci, Paus Fransiskus.

Dalam pesannya, Bapa Suci mengapresiasi pengaruh yang sangat positif dengan pendirian Institut Teologi Hidup Bakti di Roma dan di Madrid.
Kata Bapa Suci: “Setelah Konsili Vatikan II, pendirian Institut Teologi Hidup Bakti Claretianum, yang dari Madrid telah memiliki hasil yang sangat positif, seperti halnya melahirkan pusat-pusat Institut Hidup Bakti lainnya seperti di Manila, Bangalore, Bogotá dan Abuja”.
Bapa Suci juga berterima kasih atas kehidupan dan pelayanan dari keenam Institut yang sudah ada dan berbagai bentuk inisiatif untuk terus mempromosikan berbagai macam aktivitas hidup bakti lainnya seperti di: Meksiko, Polandia, Inggris, Indonesia dan di tempat-tempat lain.
Bapa Suci juga tetap memberi semangat kepada para Misionaris Claretian, Civitas Academica yang hadir dan semua kaum hidup bakti dengan pesan: “Hidup bakti tidak boleh berkurang dalam Gereja dan dalam dunia. Pater Claret juga biasa mengulangi kata-kata Santa Teresa yang diingat oleh Santo Yohanes Paulus II dalam Anjuran Apostolik Vita Consecrata: “Apa jadinya dunia jika tidak ada Religius?” (no. 105).

Lanjut Bapa Suci: “Meskipun saya tahu bahwa kalian sudah banyak menghadapi tantangan di zaman ini, saya ingin mengajak kalian untuk menekankan nilai kesetiaan dalam mengikuti Yesus sesuai dengan semangat para Pendiri, untuk memperhatikan hidup komunitas: di era di mana individualisme diusung dengan cara ini, perhatikan kehidupan komunitas!, Saya mendorong kalian untuk menghidupi interkulturalitas sebagai jalan persaudaraan dan misi, dan untuk menghidupkan perjumpaan antara generasi-generasi yang berbeda dalam hidup bakti, dalam Gereja dan dalam masyarakat”.
Di akhir audiensi ini, para peserta audiens mendapat kesempatan untuk bersalaman secara pribadi dengan Bapa Suci. Ada momen menarik dimana saat seorang Misionaris Claretian asal Indonesia, P. Dr. Agustinus Supur, CMF yang kini melayani sebagai Dekan pada Institut Teologi Hidup Bakti di Manila (ICLA Manila) mendapat kesempatan berbicara dengan Bapa Suci.
Setelah berbicara sejenak, beliau bersalaman dan memberi hadiah kepada Bapa Suci sebuah buku dengan judul: “Consecrated Life: Conciliar and Post-Conciliar Documents”.
Buku ini hasil karya beliau yang diterbitkan dalam rangka perayaan 25 tahun pendirian Insitut Teologi Hidup Bakti di Manila pada tahun ini.
Menutup sekilas info ini, saya mengutip sepenggal kalimat dari pesan Bapa Suci dalam audinesi ini:” Hari ini, hidup bakti tidak boleh membiarkan dirinya dikecilkan oleh kurangnya panggilan atau oleh penuaan”.