Penggerak Awam Katolik Dialog bersama Kardinal Suharyo
Katolikpedia.id – Penggerak awam Katolik menggelar Misa dan dialog bersama Uskup Keuskupan Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo di Gereja Paroki Kristus Raja Pejompongan, Jakarta, Minggu, 14 desember 2025.
Misa syukur dan dialog melibatkan para pengurus RT-RW & Penggerak Kemasyarakatan Paroki se-Keuskupan Agung Jakarta, Forum Komunikasi Umat Beragama (Katolik), Organisasi masyarakat Katolik dan para tenaga kesehatan Katolik di Keuskupan Agung Jakarta.
Kegiatan ini mengangkat tema : “Kepedulian Lebih Kepada Saudara Yang Lemah Dan Miskin, Subsidiaritas Dan Solidaritas”.
Dalam homilinya, Kardinal Suharyo menyampaikan terima kasih kepada umat yg hadir, yang selama ini sudah merelakan diri untuk menjadi pelayan.
“Minggu ketiga Adven adalah minggu sukacita. Sukacita bersumber dari batin kita akan keyakinan akan janji Tuhan yang tidak akan mengecewakan,” kata Kardinal Suharyo.
BACA: Kapan Mendoakan Doa Angelus dan Ratu Surga?
Tema Tahun Yubelum ini adalah Tahun Pengharapan. Pengharapan berbeda dengan optimisme. Optimisme hanya berdasar hitung-hitunganan atau angka.
Sedangkan pengharapan bersumber dari keyakinan iman. Harapan membebaskan kita dari rasa putus asa, dan sombong.
Sementara dalam sesi dialog usai Misa, Kardinal Suharyo mengimbau para penggerak awam Katolik untuk terus memikirkan cara-cara agar lingkungan tempat tinggal kita makin manusiawi.
Sebagai contoh konkret, ia menyinggung program makan siang gratis dan kursus kesenian yang digagas oleh Paroki St Barnabas Pamulang, di Megantara Ekopark.
Filosofi Megantara Ekopark yaitu patung Petruk yang memiliki “kantong bolong”. Maksudnya, rejeki mesti terus disalurkan untuk orang lain, bukan untuk disimpan sendiri.
Catatan lain yang tak kalah penting adalah data yang dirilis oleh Bappenas, yakin makanan yang terbuang mencapai 551 Trilyun per tahun. Angka ini tentu sangat tinggi, sementara ada masyarakat yang kekurangan makanan.
Maka, menurut Kardinal Suharyo, salah satu cara untuk menguranginya adalah jangan membuang makanan dan juga memilah sampah mulai dari rumah tangga.
Untuk ormas Katolik berkiprah di ramah pemerintahan harus menggunakan politik untuk kesejahteraan masyarakat. Justru di situlah umat Katolik menjalani perutusannya sebagai murid-murid Kristus.











