Katolikpedia.id – Pengurus Lingkungan St Aloysius Gonzaga, Paroki St Odilia Citra Raya, Tangerang, menggelar “Semalam di Barak”, yang melibatkan para Gen Z dan Gen Aplha, Jumat-Sabtu, 12-13 Desember 2025.
Kegiatan ini digelar sebagai respon atas fenomena hari ini di mana Gen Z dan Gen Alpha cenderung sangat lekat dan tergantung pada dunia digital.
Belum lagi pola komunikasi anak-orang tua yang kian berubah menjadi soal baru. Banyak remaja cenderung tak lagi “dengar orang tua”, menyepi dalam kamar, sibuk dengan gadget. Fenomena ini menjadi perhatian serius orang tua.
Hal ini mendorong Pengurus Lingkungan St Aloysius Gonzaga untuk menyikapi secara bijak, salah satunya dengan menggelar kegiatan “semalam di barak” bersama mereka.
Camping rohani tersebut diikuti 19 remaja, terdiri dari 9 perempuan dan 10 laki-laki, dengan didampingi oleh orangtua dan pengurus lingkungan.

Bertempat di hutan pinus Cluster Telaga Mediterania Citra Raya, Cikupa, para peserta digembleng secara rohani dan mental oleh Romo Kornelis Paulus B. Koten, SS.CC, Sr. Tekla, CB dan Frater Dominikus Y. Putra.
Menurut Frater Deo, camping rohani dikemas dalam rasa bahagia dan penuh syukur. Remaja dan orang tua hadir bersama, sembari mendekatkan diri kepada Tuhan dan tentu mempererat persaudaraan.
Ia berharap peserta terus membawa suasana ceria dan bahagia ini dalam keseharian hidup, sambil terus memupuk persaudaraan antar mereka.
Dukungan orang tua
Suster Tekla, CB melihat dukungan penuh dari orang dalam kegiatan ini sebagai wujud dari komitmen dan janji perkawinan mereka: menjaga dan merawat iman anak-anak, dan pendampingan yang berkelanjutan.
“Saya sangat terharu karena orang tua ada di belakang. Sementara anak-anak berkegiatan, orang tua memberi dukungan sepenuh hati,” ujarnya.

Camping rohani sudah menjadi salah satu program rutin tahunan umat Lingkungan St Aloysius Gonzaga.
Ketua Lingkungan St Aloysius Gonzaga, Anton, menjelaskan bahwa kepeduliaan dan perhatian orang tua terhadap perkembangan anak-anak di zaman ini begitu serius.
Camping rohani adalah upaya untuk terus menghidupkan komunikasi anak dan orang tua, sembari meneguhkan jati diri dan hidup sosial mereka.
Ketua Seksi Kepemudaan Paroki Citra Raya, Juan, yang turut hadir selama dua hari tersebut merasa bangga karena antusisme dari adik-adiknya selama kegiatan sungguh patut diapresiasi. Bagi Juan, camping rohani seperti ini jarang ditemukan di tempat lain.
“Hal yang sangat menggembirakan adalah support system di lingkungan ini, terutama dari orang tua kepada anak-anak sangat berguna bagi anak muda”, tegasnya.
Juan berharap acara ini dapat membekas di hati adik-adik, dan memancarkan kasih sayang antara orang tua dan anak. Tentu saja, “nginap semalam di barak” ini tak sekedar gaya-gayaan. Diisi dengan kegiatan yang reflektif dan rekreasi, peserta mendapatkan beragam makna.
Ketua Panitia, Stefanus Andrew menegaskan urgensinya acara ini, yakni mempererat hubungan anak-anak, dan remaja dengan Tuhan.
Fenomena “bunuh diri” di kalangan remaja makin tinggi saat ini, serta dampak media sosial berpengaruh besar terhadap perkembangan anak. Menurut Andrew, orang tua sangat peduli dengan kondisi ini.
Maka, camping rohani hadir sebagai wadah penyadaran diri bagi anak-anak bahwa selalu ada Tuhan yang hadir dan membantu hidup mereka.
“Melalui empat sesi utama dan beragam aktivitas selama dua hari ini, anak-anak dapat lebih merasakan kehadiran Tuhan, pun kehadiran orang tua sebagai sahabat bagi anak-anaknya”, tandasnya.
Kesan positif

William, remaja lingkungan yang kini di Kelas XI SMK St Maria, Jakarta, punya kesan yang sangat mendalam.
“Saat adorasi Sakramen Mahakudus, saya merasakan kehadiran Tuhan, ketenteraman dan kedamaian hati”, ungkapnya.
Bagi William merasa kegiatan ini sangat penting bagi anak-anak muda Katolik karena menghantar mereka untuk lebih mendalami dan mengerti ajaran dan cinta Yesus Kristus. Pesan yang sama diamini oleh Valerie.
Remaja SMP Tarki Kelas VII ini bertutur, “Saya happy dan bisa ketemu teman-teman yang banyak, serta materi yang bagus untuk diri kita sendiri”.
Wakil orang tua, Bernadus Ariyanto, mendukung penuh pelaksanaan kegiatan ini. Baginya, acara seperti ini sangat penting di tengah kemajuan teknologi yang berdampak besar bagi kehidupan anak-anak.
“Semalam di barak” ini seakan menarik kembali remaja dari ketergantungan pada teknologi dengan mendekatkan diri pada Tuhan dan teman-teman sebaya. “Mereka saling terbuka dan berbagi tentang pengalaman hidup pribadi, serta dekat dengan orang tua pada momen ini”, tegas Ari.
Camping rohani dua hari satu malam ini menyadarkan tentang pentingnya remaja mengenal diri sendiri, memperkuat relasinya dengan Tuhan, serta terus menumbuhkan hubungan yang bermakna dan terbuka dengan orang tua dan teman-teman.
Romo Nelis menyampaikan kesan yang sangat positif terhadap kegiatan ini. Ia menilai bahwa menghimpun remaja dalam aktivitas semacam ini bukanlah hal mudah di tengah kuatnya pengaruh era digital.
Namun, kegiatan tersebut justru menunjukkan bahwa remaja dapat dengan cepat membangun kedekatan dengan teman sebaya yang sejalan, bahkan hingga larut malam karena asyik berbincang.
Ia juga mengapresiasi pengenalan tradisi khas Gereja, seperti adorasi Sakramen Mahakudus, serta keterlibatan orang tua yang mendampingi anak-anak.
Dukungan dan totalitas orang tua dinilai sangat penting. Harapannya, para remaja tetap memelihara harapan akan hidup dan masa depan mereka.
Camping rohani ditutup dengan meditasi pagi, sharing iman, dan ibadah penutup yang dipimpin oleh Frater Dio.










