Katolikpedia.id – Gereja Santa Maria de Fatima adalah salah satu gereja terunik di Keuskupan Agung Jakarta. Mengapa dikatakan unik? Simak 6 fakta penting ini!
#1 Gereja Inkulturasi
Gereja St Maria de Fatima Toasebio kerap dijuluki “Gereja Inkulturasi”. Hal ini karena bangunan Gerejanya bergaya khas Tionghoa. Ornamen-ornamen hingga bentuk tabernakelnya pun mengusung bentuk dan model yang biasa ditemukan dalam berbagai bangunan beretnis Tionghoa.
Ketika memasuki Gereja ini, kita akan disambut dengan warna interior dan eksterior yang didominasi warna merah dan emas. Suasana ini kerap membuat banyak umat yang merasa sedang merayakan Misa di Negeri Cina.
#2 Berasal dari rumah biasa
Pada tahun 1953, pembangunan gereja ini digagas. Dimulai dengan pembelian sebuah rumah dengan lahan seluas 1 ha dari seorang bangsawan Cina bermarga Tjioe. Bangunan tersebut dialihfungsikan sebagai kapel. Semakin hari jumlah umat semakin bertambah, maka kapel tersebut diperluas menjadi bangunan Gereja.
#3 Gereja Tertua
Pada 13 Oktober 1955, Gereja Santa Maria de Fatima diresmikan sebagai paroki. Pemilihan tanggal 13 Oktober tidak terlepas dari nama Gereja, yakni St Maria de Fatima. Tanggal peresmiannya bertepatan dengan salah satu momen penampakan Bunda Maria di Fatima yang terjadi dari Mei hingga Oktober 1917. Kalau dihitung dari tahun digagasnya, maka Gereja Toasebio saat ini sudah berdiri selama 70-an tahun.
#4 Cagar Budaya Nasional
Setelah 17 tahun berdiri sebagai paroki, Gereja Santa Maria de Fatima Toasebio resmi diakui pemerintah sebagai gereja yang masuk dalam Cagar Budaya Nasional pada tahun 1972. Dan pada tahun 1993, gereja ini ditetapkan sebagai bangunan Cagar Budaya Provinsi DKI Jakarta.
Kalau kamu berkunjung ke Gereja Toasebio, jangan heran jika kamu akan menemukan banyak wisatawan asing yang juga berkunjung ke sana.

#5 Lonceng Gereja Austria
Hal unik lainnya adalah, sejarah lonceng Gereja St Maria de Fatima. Awalnya lonceng Gereja ini didatangkan langsung oleh Pastor Staudinger, SJ dari Austria. Namun, seiring berjalannya waktu lonceng Gereja dari Austria tersebut diganti dengan lonceng yang baru. Dilansir dari sathora.or.id, lonceng dari Austria tersebut disumbangkan ke Pasaman, Sumatra Barat.
#6 Misa Bahasa Mandarin
Selain tersedia dalam Bahasa Indonesia, Misa di Paroki Toasebio juga tersedia dalam Bahasa Mandarin. Jadi, buat kamu yang sedang belajar Bahasa Mandarin, bisa memanfaatkan pelung ini. Saat perayaan Imlek, nuansa Tionghoa juga lebih terasa seperti ada penampilan wushu, nyanyian dalam Bahasa Mandarin, dll.
Sebagai informasi tambahan, gereja yang terletak di Glodok ini awalnya dikelola oleh para imam Jesuit, namun memasuki tahun 1970, Mgr. Adrianus Djajasepoetra SJ menawarkan Paroki Toasebio kepada para misionaris Xaverian. Maka hingga sekarang, Paroki St Maria de Fatima berada di bawah naungan imam-imam Serikat Xaverian (SX).
Itulah salah satu gereja Katolik terunik di Keuskupan Agung Jakarta. Hadirnya gereja St Maria de Fatima Toasebio menjadi bukti nyata bahwa Gereja Katolik tidak pernah membangun tembok pemisah dengan budaya setempat.
- Keren! Ini 6 Fakta Menarik tentang Gereja St Maria de Fatima Toasebio
- Ini Pesan-pesan Penting di Film The Last Supper!
- Tiga Romo Merayakan Misa untuk Ibu Mereka yang Sakit
- Paroki-Paroki di Wilayah Keuskupan Agung Kupang
- Dalam Satu Bulan Stasi St Laurensius Parung Panjang Dikunjungi Dua Uskup