Yesus Seorang Marketing Sejati

Sebagai orang beriman, mungkin kita pernah bertanya, “Jika tujuan Yesus sama, yakni membawa manusia mengenal Allah, mengapa cara-Nya mengajar selalu berbeda-beda?

Mengapa Ia tidak memakai satu metode saja?” Pertanyaan sederhana ini justru membuka sebuah cara pandang yang menarik tentang bagaimana Yesus memahami manusia.

Untuk menjawabnya, mari kita melihat kembali kisah-kisah dalam Kitab Suci. Melalui Injil, kita menemukan bahwa Yesus mengajar dengan berbagai cara.

Misalnya, kepada Nikodemus Ia berdialog pada malam hari. Kepada perempuan Samaria Ia memulai percakapan dari air di sumur. Kepada Zakheus Ia justru memanggil namanya dan berkunjung ke rumahnya. Kepada para nelayan, Ia berbicara tentang menjala manusia.

Semua menunjukkan bahwa Yesus memahami latar belakang setiap orang sebelum menyampaikan kabar baik. Namun, ada satu metode yang paling sering Ia gunakan, yaitu perumpamaan.

Perumpamaan menjadi salah satu cara mengajar yang paling mudah dipahami serta dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat pada masa itu.

Melalui benda, hewan, tokoh, waktu, maupun tempat yang akrab dengan kehidupan sehari-hari, Yesus menyampaikan firman Allah dalam bentuk yang lebih mudah dipahami.

Contoh perumpamaan yang paling sering kita dengar dan kita baca di kitab suci adalah kisah seorang penabur.

Dalam perumpamaan itu, Yesus menceritakan seorang petani yang menaburkan benih. Ada benih yang jatuh di pinggir jalan, tanah berbatu, semak berduri, dan tanah yang subur.

Benih-benih itu mengalami nasib yang berbeda: ada yang dimakan burung, ada yang layu karena akarnya tidak kuat, ada yang terhimpit semak berduri, dan ada pula yang bertumbuh hingga menghasilkan buah berlimpah.

Dari kisah perumpamaan itu pula, kita dapat melihat bahwa Yesus memahami siapa pendengar-Nya. Ia tidak sekadar menyampaikan kebenaran, melainkan juga memilih cara yang paling dekat dengan kehidupan mereka.

Seorang petani akan lebih mudah memahami cerita tentang benih, nelayan akan lebih mengerti kisah tentang jala, dan seorang gembala akan segera menangkap makna ketika Yesus berbicara tentang domba.

Dalam dunia modern, cara menyampaikan pesan seperti ini mengingatkan kita pada prinsip marketing communication, yakni memahami siapa yang diajak berbicara agar pesan dapat diterima dengan baik.

Jika kita memperhatikan seluruh Injil, Yesus hampir tidak pernah memulai pengajaran-Nya dengan istilah-istilah rumit. Ia memilih benih, garam, terang, roti, ikan, pohon ara, domba, bahkan uang dinar sebagai jembatan menuju kebenaran yang jauh lebih besar. Bukan karena firman Allah harus disederhanakan, melainkan karena kasih selalu mencari cara agar dapat dimengerti.

Barangkali di sinilah kita perlu belajar. Di zaman sekarang, kita sering sibuk mencari cara agar orang mau mendengarkan kita. Kita belajar public speaking, personal branding, bahkan strategi komunikasi.

Namun Yesus menunjukkan bahwa sebelum memilih metode, Ia terlebih dahulu memahami manusia yang ada di hadapan-Nya. Dan mungkin, inilah pelajaran pertama dalam komunikasi yang sering kita lupakan.

Yesus menunjukkan bahwa menyampaikan kabar baik bukan hanya soal apa yang dikatakan, melainkan juga bagaimana cara mengatakannya. Dalam istilah hari ini, mungkin kita menyebutnya sebagai strategi komunikasi atau bahkan marketing.

Namun bagi Yesus, semuanya berakar pada satu hal yang sama: kasih kepada manusia. Kasih itulah yang membuat-Nya rela memahami siapa yang Ia ajak bicara sebelum menyampaikan kebenaran.

Maka, belajar marketing dari cara Yesus mengajar bukan berarti mengubah Injil menjadi produk yang dijual.

Sebaliknya, kita belajar bahwa setiap pewarta iman dipanggil untuk menghadirkan firman Allah dengan bahasa yang dekat, tulus, dan menyentuh kehidupan nyata.

Sebab pesan yang benar akan lebih mudah berbuah ketika disampaikan dengan cara yang mampu menyentuh hati pendengarnya.

Pada akhirnya, marketing yang paling berhasil bukanlah membuat orang membeli sesuatu, melainkan membuat orang percaya. Dan Yesus tidak pernah ‘menjual’ Kerajaan Allah. Ia terlebih dahulu menghadirkan kasih-Nya, sehingga orang-orang memilih mengikuti-Nya dengan sukarela.

Oleh: Stevanie Herawati Putri

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!