Katolikpedia.id – “Allah adalah kasih” (1 Yoh 4:16). Kutipan ini bukan hanya sekadar rangkaian kata tanpa makna. Bagi setiap orang beriman, kutipan ini memberikan sebuah pegangan yang kokoh, yaitu sebuah pengharapan.
Pengharapan akan Allah yang pasti menyelamatkan, sebab Ia mengasihi umat-Nya tanpa batas. Namun, lebih dalam dari hanya memberikan pengharapan, kutipan adalah sebuah undangan. Sebuah undangan untuk tinggal dan hidup dalam kasih Allah.
Undangan untuk menjalankan hidup berlandaskan kasih yang memberi kekuatan untuk melakukan apapun. Kasih yang bersumber dari Allah yang lebih dahulu mengasihi manusia.
Kasih yang menjadi motor penggerak hati manusia untuk peduli. Kasih yang diwujudkan menjadi sebuah pelayanan kepada sesama.
“Tinggal dan Hidup dalam Kasih Allah” dipilih menjadi tema Perayaan Pengikraran Kaul Religius MSF tahun ini. Tema yang dipilih sebagai buah refleksi berdasarkan teks 1 Yoh 4: 16.
Jumat, 10 Juli 2026, Gereja Keluarga Kudus Banteng jadi saksi bagi 25 pemuda Misionaris Keluarga Kudus (MSF) yang menanggapi undangan untuk tinggal dan hidup dalam kasih Allah dengan lebih radikal.
Para pemuda ini mengikrarkan kaul religius dan menjadi seorang biarawan MSF. Janji prasetya yang membarui hidup, mengikuti Yesus sesuai dengan nasihat Injil dalam kaul kemurnian, kemiskinan, dan ketaatan.
Dari 25 Frater yang mengikrarkan kaul, tiga frater mengikrarkan kaul perdana dan 20 frater mengikrarkan kaul pembaruan. Sedangkan dua frater lainnya mengikrarkan kaul kekal.
Janji untuk setia mengikuti Yesus dan hidup menurut nasihat Injili seumur hidup dalam Kongregasi Para Misionaris Keluarga Kudus mengangkat tema “Tinggal dan Hidup dalam Kasih Allah”
Tema ini diharapkan menjadi fondasi bagi para frater dalam menjalankan setiap karya perutusan, baik dalam studi, maupun karya kerasulan yang dipercayakan kepada mereka.
Pengikraran Kaul Religius dilaksanakan dalam perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Romo Yohanes Risdiyanto, MSF selaku provinsial MSF provinsi Jawa sebagai selebran utama, Romo Petrus Yuwono Hendre Prasetyo, MSF selaku magister Novisiat MSF sebagai konselebran pertama, dan Romo Ignatius Triatmoko, MSF selaku rektor skolastikat MSF Jawa sebagai konselebran kedua.
Suasana kekeluargaan terasa nyata ketika lebih dari 40 imam MSF dari berbagai daerah penugasan turut hadir dan berkonselebrasi untuk memberikan dukungan.
Tidak hanya dihadiri oleh komunitas MSF, perayaan syukur ini juga dihadiri oleh keluarga para frater yang hadir dengan penuh sukacita dan syukur, biarawan dan biarawati dari berbagai kongregasi serta umat awam yang memberi dukungan bagi para frater kauliawan.
Perayaan Ekaristi semakin semarak dengan iringan koor dari kerabat MSF Paroki Keluarga Banteng.
Dalam homili, Rm. Risdi, MSF mengungkapkan bahwa panggilan menjadi seorang religius adalah sebuah panggilan yang patut disyukuriPanggilan menjadi seorang biarawan tidak hanya ditanggapi untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk “membangunkan dunia”.
Panggilan menjadi seorang religius adalah panggilan untuk bergerak aktif menanggapi kebutuhan dunia, tidak hanya berpangku tangan melihat dunia terus berjalan.
Seperti Yesus sendiri yang terus berjalan dari kota ke desa untuk mewartakan Kerajaan Allah. Seorang Misionaris dipanggil untuk “pergi” dan terus berkarya mewartakan kabar Keselamatan Allah.

Yesus tidak menjanjikan kenyamanan dalam panggilan hidup ini, tetapi menawarkan sebuah hidup semakin mendalam hingga menghasilkan buah.
Pendiri MSF, Pater Jean Berthier, MS. juga telah memberikan inspirasi berkaitan dengan hal ini. Bahwa umat berhak mendapat imam yang cakap dan suci.
Hal ini berarti setiap imam termasuk calon imam dalam semua masa persiapannya harus mengupayakan ketekunan doa dan kerja tangan. Kaul membantu setiap orang yang mengikrarkannya untuk berusaha dengan setia mewujudkan cita-cita tersebut.
Kaul kemurnian membantu seorang religius dalam mengarahkan hati hanya kepada Allah dan tidak mendua. Kaul ketaatan membantu seorang religius untuk mendengarkan sabda Tuhan secara lebih mendalam dan semakin mendalam.
Kaul kemiskinan membawa setiap misionaris untuk siap sedia diutus. Menimba inspirasi dari Pater Berthier, bahwa kaul kemiskinan tidak hanya melepaskan kesenangan lahiriah, tetapi mencabut akar kelekatan.
Bak seorang atlet gulat tidak akan mengenakan pakaian maha indah dalam pertandingan yang membuatnya dengan mudah menangkap dan membantingnya.
Demikian pula seorang religius hendaknya melepaskan setiap kelekatan dalam dirinya pada hal-hal duniawi yang dapat menggoda dan membuatnya jatuh. Dengan demikian seorang religius dapat dengan lepas bebas berkarya dan melayani sesama.
Perayaan Ekaristi diakhiri dengan ungkapan syukur dari perwakilan orang tua kauliawan perdana dan perwakilan kauliawan kekal.
Bersyukur seluruh rangkaian acara Pengikraran Kaul MSF 2026 dapat berjalan lancar, khidmat, dan dipenuhi dengan suasana sukacita.
Semoga perayaan ini sungguh menjadi momen yang menyegarkan panggilan para frater untuk semakin tekun dan setia mengikuti Yesus dan hidup menurut nasihat Injili. Semoga para frater senantiasa teguh dan setia untuk “Tinggal dan Hidup dalam Kasih Allah”!
Paulus Setyo Nugroho

