Katolikpedia.id – Film The Last Supper sedang hangat di kalangan umat Kristen Protestan dan Katolik. Ada yang merekomendasikan sebagai film rohani terbaik tahun 2025. Tetapi di sisi lain, ada yang memberi review jelek karena dianggap tidak sejalan dengan gambaran tentang Yesus ada di Injil.
Buat kamu yang masih ragu, ayo simak beberapa poin penting tentang film The Last Supper yang berhasil dikemas Katolikpedia ini!
#Potret keseharian zaman now
Sebenarnya, film The Last Supper adalah sebuah ajakan refleksi yang dikemas dalam film dengan alur yang ringan. Film rohani terbaru 2025 ini menyajikan fakta seputar sifat-sifat asli manusia pada umumnya.
Tokoh Yudas menggambarkan sosok yang materialistis, Petrus yang kesetiaannya rapuh dan berujung penyangkalan serta yang paling utama adalah Yesus dengan cinta-Nya yang maha luas.
#Kesetiaan Petrus yang Semu
Di dalam injil, Petrus adalah murid yang sangat mencintai Yesus. Petrus percaya sepenuhnya bahwa Yesus adalah Putra Allah. Petrus dalam film tersebut digambarkan sebagai sosok yang sangat peduli pada Yesus. Ini terlihat saat persiapan perjamuan malam terakhir.
Petrus memastikan segala sudut ruangan agar aman dari segala ancaman sebelum Yesus mengadakan Perjamuan Terakhir. Bahkan Petrus adalah murid yang paling memberontak ketika Yesus ditangkap. Namun itu semua tidak cukup mengokohkan iman Petrus. Petrus justru terombang-ambing dalam ketakutan. Meski berusaha untuk tetap menemani dan melindungi Yesus, namun di sisi lain, imannya goyah. Ia takluk pada godaan iblis.
Sadar bahwa ia telah mengkhianati Yesus, Petrus menyesal dan kembali kepada Yesus melalui jalan pertobatan. Di bagian ini, The Last Supper mengajak penonton untuk melihat bahwa Petrus tidak sekedar menyesali perbuatannya.
Di momenn ketika ia mendapati Yudas yang terbujur kaku, Petrus melihat dirinya sebagai seseorang yang mengalami kegagalan; gagal sebagai seorang sahabat yang baik bagi Yudas dan juga gagal sebagai murid Yesus. Ternyata, ia juga seorang pengkhianat!

Perbedaanya, Petrus tidak menyerah! Ia mengambil jalan pertobatan dan kembali ke jalan Yesus, sedangkan Yudas menyerah, memilih jalan pintas dan mengakhiri hidupnya.
# Persepsi Yudas yang keliru
Yudas selama ini digambarkan sebagai seorang pengkhianat. Itu betul! Bahkan stigma “Yudas adalah pengkhianat” mengakar dalam ingatan kita.
Pada film The Last Supper kita diajak untuk melihat lebih jauh alasan Yudas mengkhianati gurunya. Pandangan Yudas tentang Yesus lebih mengarah ke sisi duniawi.
Yudas terobsesi bahwa Guru yang menjadi teladan hidupnya akan menjadi raja atas umat Israel seperti Pilatus. Dengan begitu, Yesus bisa membebaskan bangsa Israel yang tertindas di bawah kekuasaan Romawi. Yudas menaruh harapan yang tinggi kepada Yesus.
Namun faktanya, semua persepsi Yudas tentang Yesus adalah keliru. Yudas kecewa! Dalam hal ini, Yudas mengalami dilema; apakah mengikuti Yesus atau pola pikirnya sebagai manusia biasa?
Pergolakan Yudas adalah hal yang paling relate dengan kenyataan yang sering kita temui, bahwa seringkali apa yang direncanakan manusia belum tentu sejalan dengan yang dikehendaki Tuhan.
#Pergulatan Yesus
Seperti film tentang Yesus pada umumnya, sosok Yesus digambarkan sebagai seorang Guru yang penuh cinta. Perbedaanya, The Last Supper lebih banyak menyasar kemanusiaan Yesus.
Yesus tahu bahwa Yudas mengkhianati-Nya dan Petrus akan menyangkal diri-Nya. Namun, Yesus tetap mengajak mereka untuk hadir dalam Perjamuan Terakhir. Di tengah kesedihan dan fakta bahwa ia akan dikhianati, Yesus tetap merangkul dengan penuh cinta dengan membasuh kaki para murid-Nya.
Yang dialami Yudas dan Petrus adalah bukti nyata sifat manusia. Yesus tahu bahwa manusia selalu jatuh dalam godaan iblis dan dosa yang membuat mereka terpisah dan jauh dari Bapa-Nya. Karena itulah, Yesus memilih menjadi “jembatan” kepada Bapa dengan merelakan diri-Nya dipaku di kayu salib. Dengan darah-Nya, Yesus mampu mengeratkan kembali hubungan manusia dengan Allah.
Kesimpulan
Seperti yang tertera pada bagian terakhir film The Last Supper, penonton diajak untuk mengenal Yesus dari sudut pandang yang lebih luas. Pergolakan yang dialami oleh Petrus dan Yudas merupakan hal paling lumrah yang sering dialami oleh manusia yakni mudah jatuh dalam godaan iblis.

Selain 3 hal positif di atas, ada juga beberapa hal yang perlu dihindari ketika menonton film ini:
#Kehilangan konsentrasi
Alur cerita film ini tidak disajikan secara runut. Ada beberapa bagian yang maju mundur. Jika kamu tidak menaruh konsentrasi penuh, maka dipastikan kamu akan beranggapan The Last Supper tidak memberi kesan yang menarik.
#Jangan bandingkan dengan The Passion of the Christ
Sesuai dengan nama judulnya, film ini TIDAK ada gambaran keseluruhan tentang proses penyaliban Yesus. Pesan yang ingin diangkat dalam film rohani ini adalah momen Perjamuan Terakhir Yesus, bukan tentang kisah penyaliban Yesus seperti yang kita temukan dalam film The Passion of the Christ.
Pesan Mimin, jangan ragu seperti Thomas, jangan termakan review yang meragukan hatimu. Mari, nikmati filmnya dan petik pesan-pesan rohani yang tersirat.
- Keren! Ini 6 Fakta Menarik tentang Gereja St Maria de Fatima Toasebio
- Ini Pesan-pesan Penting di Film The Last Supper!
- Tiga Romo Merayakan Misa untuk Ibu Mereka yang Sakit
- Paroki-Paroki di Wilayah Keuskupan Agung Kupang
- Dalam Satu Bulan Stasi St Laurensius Parung Panjang Dikunjungi Dua Uskup